al-Durrah "al-Nâdhirah ‘alâ al-Durrah al-Fâkhirah”; Kitab Langka Karangan Syaikh Sirâjuddîn bin Jalâluddîn Aceh yang “Majhûl”




~ “al-Durrah al-Nâdhirah ‘alâ al-Durrah al-Fâkhirah”; Kitab Langka Karangan Syaikh Sirâjuddîn bin Jalâluddîn Aceh yang “Majhûl”

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.



Satu persatu harta karun khazanah intelektual ulama Nusantara mulai tertungkap, demikian juga sosok para ulama Nusantara kuno yang sedikit-sedikit mulai tersingkap tabir sejarah, jejak langkah, dan genealogi keilmuannya.
Ini adalah halaman pertama dan kedua dari manuskrip kitab berjudul “al-Durrah al-Fâkhirah Tanbîhan ‘alâ al-Durrah al-Fâkhirah”, yang terhitung sebagai “kitab langka” karangan seorang ulama Nusantara asal Aceh, yaitu Syaikh Sirâjuddîn ibn Syaikh Jalâluddîn al-Âsyî, yang juga terhitung sebagai “ulama majhûl ” (belum terungkap identitasnya).
Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi) dengan sedikit campuran bahasa Arab, dengan jumlah keseluruhan 26 halaman. Kitab ini berisi tentang kajian ajaran tauhid agama Islam, yang mencakup hal-hal yang wajib, mustahil, dan boleh bagi Allah Ta’ala juga bagi Rasul-RasulNya, yang disertakan juga dengan argument-argumen logisnya.
Saya mendapatkan kopian naskah ini dari sahabat budiman dari Aceh, Luengputu Manuskrip Melayu Aceh, seorang kolektor muda manuskrip-manuskrip keislaman langka dari Aceh.
Dari judulnya, yaitu “al-Durrah al-Nâdhirah [Tanbîh-an] ‘alâ al-Durrah al-Fâkhirah”, terdapat isyarat jika kitab ini merujuk pada kitab al-Durrah al-Fâkhirah. Hal ini juga disinggung oleh pengarang dalam beberapa bagian di dalam kitabnya, bahwa ia mengutip pendapat “sebagaimana yang dikatakan oleh shâhib [pengarang] al-Durrah al-Fâkhirah”.
Meski demikian, tidak disebutkan oleh Syaikh Sirâjuddîn Aceh ini kitab “al-Durrah al-Fâkhirah” yang mana yang dirujuknya itu. Karena, dalam sejarah literatur Islam, ada beberapa ulama yang menulis karyanya dengan judul “al-Durrah al-Fâkhirah”, seperti “al-Durrah al-Fâkhirah fî al-Amtsâl al-Sâirah” karangan Hamzah ibn Hasan al-Ashfahânî (w. 962 M), “al-Durrah al-Fâkhirah fî Kasyf ‘Ulûm al-Âkhirah” karangan al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M), “al-Durrah al-Fâkhirah fî Tahqîq Madzâhib al-Shûfiyyah wa al-Mutakallimîn wa al-Hukamâ al-Mutaqaddimîn” karangan Maulânâ ‘Abd al-Rahmân Jâmî (w. 1492 M), juga “al-Durrah al-Fâkhirah fî al-Ta’lîq ‘alâ Manzhûmah al-Sair ilâ Allâh wa al-Âkhirah” karangan Syaikh ‘Abd al-Rahmân ibn Nâshir al-Sa’dî (w. 1956 M).
Namun, setelah dilakukan penelaahan terhadap keempat kitab “al-Durrah al-Fâkhirah” di atas, didapati kesimpulan jika kitab “al-Durrah al-Fâkhirah” yang dikutip dan didedah oleh Syaikh Sirâjuddîn Aceh adalah “al-Durrah al-Fâkhirah” karangan Maulânâ ‘Abd al-Rahmân Jâmî, yang mengkaji tentang masalah teologi dan tasawuf Islam.
Nama pengarang kitab ini sendiri, Syaikh Sirâjuddîn ibn Syaikh Jalâluddîn Aceh masih terhitung asing dalam kajian biografi dan “tabaqât” ulama-ulama Nusantara. Wan Muhammad Shagir Abdullah, peneliti ulama-ulama Nusantara asal Malaysia, berasumsi jika Syaikh Sirâjuddîn adalah putra dari Syaikh Faqîh Jalâluddîn Aceh, ulama besar Aceh yang hidup di abad ke-18 M dan juga murid dari Syaikh Abdul Rauf Singkel (w. 1693 M). Pendapat Wan Muhammad Shagir ini tertuang dalam artikelnya yang berjudul “Syeikh Sirajuddin al-Asyi Kesinambungan Ulama Aceh” yang dimuat dalam laman Utusan Malaysia (05/02/2007) (http://ww1.utusan.com.my/utusan/info.asp…).
Dikatakan oleh Wan Muhammad Shagir, bahwa Syaikh Sirâjuddîn adalah adik dari Syaikh Muhammad Zain ibn Faqîh Jalâluddîn Aceh. Sosok terakhir ini memang masyhur adanya, dan beberapa karyanya banyak tersebar. Namun benarkah demikian bahwa Syaikh Sirâjuddîn adalah anak dari Faqîh Jalâluddîn Aceh? Tentu perlu penelitian lebih jauh lagi.
Dalam kata pengantarnya pada kitab "al-Durrah al-Fakhirah", pengarang menyebut jadi dirinya dengan “hamba yang mengharap pada pengampunan Tuhannya Yang Maha Kaya, Sirâjuddîn ibn Jalâluddîn”. Tertulis di sana;
وبعد فيقول العبد الراجي الى عفو ربه الغني سراج الدين بن جلال الدين تغمد الله بغفرانه
Pengarang juga mengungkapkan motif penulisan karyanya ini. Dikatakannya bahwa orang-orang awam di negerinya sangat memerlukan sebuah pelajaran lebih jauh tentang ilmu tauhid dalam Islam, yang menerangkan hal-hal yang wajib, mustahil, sekaligus boleh (jaiz) bagi Allah Ta’ala dan juga bagi Rasul-RasulNya.
Sebagaimana ditulis oleh pengarang dalam bahasa Arab;
لما رأيت الناس محتاجين الى معرفة ما يجب على حق مولانا جل وعز وما يستحيل وما يجوز وكذا ما يجب في حق الرسل عليهم الصلاة والسلام وما يتسحيل وما يجوز، فخطر بالي أن ألف وأترجم رسالة مختصرة بلسان الجاوي على قد العقول والفهم، وسميتها (الـ)درة الناضرة تنبيها على (لـ)درة الفاخرة.
“Ketika aku melihat orang-orang memerlukan untuk mengetahui apa-apa yang wajib atas hak Allah Ta’ala, juga apa-apa yang mustahil dan boleh, juga apa-apa yang wajib atas hak para RasulNya dan yang mustahil dan boleh, maka terbersitlah dalam pikiranku untuk menulis dan menerjemahkan sebuah risalah dalam bahasa Jawi (Melayu) yang sekiranya bisa difahami. Dan aku pun menamakannya “al-Durrah al-Nâdhirah Tanbîhan ‘alâ al-Durrah al-Fâkhirah”.
Tidak ada titimangsa yang menyebutkan tanggal, tahun, dan tempat ditulisnya karya ini. Naskah ini sendiri merupakan naskah salinan. Tertulis nama penyalin dalam kolofon, yaitu Lebai Lima (?), disalin di Pedir, pada suatu Malam Sabtu di bulan Rabi’ul Akhir (tanpa menyebutkan tahun). Tertulis di sana;
تمت رسالة اين دغن تولغ الله توهن يغ (؟) هيدية اكن سكل همباي أمين انتهى فد مالم سبت فد بولن ربيع الاخر فد مغاجر شيخنا ومولانا شيخ عبد الصمد فطاني فد نكري (لمبهوق؟) فد زمان دوارج يائت سوات دنكري اجه دان سواة نكري فد فدير وكاتبه الفقير الحقير الى الله تعالى المسماه لابي لم ج
“Tammat risalah ini dengan tulung Allah Tuhan yang (?) hidayahNya akan segala hambaNya amin. Intaha [selesai] pada malam sabtu pada bulan Rabi’yl Akhir pada mengajar Syaikhana wa Maulana Syaikh ‘Abdul Shamad Fathani pada negeri (L-M-B-H-U-Q ?) pada zaman dua raja yaitu suatu negeri Aceh dan suatu negeri pada Pedir. Dan penulisnya adalah hamba yang fakir dan hina kepada Allah Ta’ala, yang bernama Lebai Lima (J)”.
Namun, merujuk kembali pada keterangan Wan Muhammad Shagir Abdullah, dikatakan bahwa terdapat juga manuskrip salinan “al-Durrah al-Nâdhirah” karangan Syaikh Sirâjuddin Aceh ini di Pusat Manuskrip Melayu, Perpustakaan Negara Malaysia, dengan nomor kode MS 1530.
Dalam naskah tersebut, didapati keterangan jika “al-Durrah al-Nâdhirah” diselesaikan pengarangnya pada tahun 1238 Hijri (1822 Masehi). Tahun ini mengisyaratkan jika pengarangnya sezaman dengan Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathânî (w. 1265 H/ 1850 M), juga Syaikh Muhammad ‘Ali ibn ‘Abd al-Rasyîd Qadhi Sumbawa (w. ?). Terdapat karya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani yang bertitimangsa 1238 H/1822 M, yaitu “Kasyf al-Ghummah”, sementara karya Syaikh Muhammad ‘Ali yang bertitimangsa 1243 H (1827 M) adalah “al-Yawâqît wa al-Jawâhir”.
Terdapat satu karya Syaikh Sirâjuddîn Aceh yang lainnya, yaitu “Mirât al-Asrâr li Ahl Tharîq al-Akhyâr” yang mengkaji masalah tasawuf Islam. Manuskrip salinan karya ini (disalin oleh Ismail bin Lebai Ibrahim pada tahun 1408 H/ 1887 M) tersimpan di Kampung Sungai Rusa, Pulau Pinang Malaysia.
Bandung, Februari 2017
Al-Faqir A. Ginanjar Sya’ban

Post a Comment

0 Comments