Mu’allim Krueng Raya


Beberapa hari ini saya sedang disibukkan dengan bolak balik ke Pidie dengan tujuan untuk melacak keberadaan naskah kuno yang masih tersebar dalam masyarakat. Namun saat kembali ke Bandar Aceh Darussalam, Saudara saya Haekal Afifa telah menampakkan kepada saya beberapa file naskah kuno miliknya yang sudah didigitalkan.

Dari beberapa file tersebut kebanyakan adalah teks Arab yang lumrah dijumpai dan hanya beberapa saja yang Arab-Jawi. Namun dari file Arab-Jawi tersebut ada sebuah teks yang penting saya kira perlu diangkat untuk diketahui bersama.

Naskah kuno ini telah menarik perhatian saya. Ya, karena pada naskah ini terdapat sebuah nama tokoh baru yang unik dan ianya mempunyai jaringan yang besar tentunya dan saya berani mengkaitkannya dengan tokoh serupa lainnya di Samudra Pasai.
Ia bernama “ Mu’allim Krueng Raya”.

Ya, walaupun sepintas saya mengira ini tokoh biasa saja dan saya hanya menduga ianya sebagai seorang katib[penyalin] naskah layaknya tokoh-tokoh lain. Akan tetapi setelah saya baca-baca kembali saya punya pandangan lain yang istimewa, layaknya Muallim lain di Samudra Pasai.

Mu’allim dalam kaedah Arab berasal dari fi’l al-madhi ‘alama, mudhari’nya yu’allimu dan mashdarnya al-ta’lim. Artinya, telah mengajar, sedang mengajar, dan pengajaran. Kata mu’allim memiliki arti pengajar atau orang yang mengajar. Istilah mu’allim sebagai pendidik dalam Hadist Rasulullah adalah kata yang paling umum di kenal dan banyak di temukan.

Mu’allim merupakan al-ism al-fa’il dari ‘alama yang artinya orang yang mengajar. Dalam bentuk tsulasi mujarrad, mashdar dari ‘alima adalah ‘ilmun, yang sering di pakai dalam bahasa indonesia disebut ilmu. Dalam proses pendidikan istilah pendidikan yang kedua yang di kenal sesudah al-tarbiyyat adalah al-ta’lim. Rasyid ridha, mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu.

Beberapa waktu lalu Tuan kami Musafir Zaman menulis sebuah artikel penting. Dalam sebuah tulisan singkatnya di MAPESA “Cisah Temukan Makam Keluarga Mu'allim Samudra Pasai”
ia menulis bahwa pemberian gelar Muallim bukan hanya sebagai seorang pengajar, akan tetapi gelar itu dalam sejarah Islam “Mu’allim” adalah gelar terkenal untuk seorang pelayar atau nakhoda. Dan tentang ini pun sudah berulang kali beliau singgung.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, Central Information for Samudra Pasai Heritage (CISAH) dalam banyak publikasinya telah banyak menemukan tokoh-tokoh yang bergelar sebagai Mu’allim di kawasan Samudra Pasai. Seperti Mu’allim Damar, Mu’allim Ahmad Taufiq dan baru-baru ini temuan komplek makam keluarga Mu’allim di sekitar Kuala Lancok, Lhoksumawe. Baca: “Cisah Temukan Makam Keluarga Mu'allim Samudra Pasai”. Link : http://www.mapesaaceh.com/…/cisah-temukan-makam-keluarga-mu…

Maka dengan demikian kata Mu’allim memiliki dua makna selain sebagai pengajar, juga bermakna sebagai seorang pelayar.

Sedangkan Krueng Raya adalah sebuah kawasan yang terdapat di pesisir utara Aceh Besar. Kawasan Krueng Raya ini memiliki banyak potensi sejarah seperti kawasan situs Kerajaan Lamuri, situs Benteng dan lain sebagainya. Akan tetapi tentang adanya sebuah pusat studi ilmu pengetahuan dizaman dahulu di Krung Raya ini butuh kajian khusus untuk mendapatkan jawabannya. Walaupun di Aceh Besar ini banyak terdapat sebaran manuskrip kuno.


Maka penggabungan antara Muallim dan Krueng Raya dapat memberi gambaran kepada kita bagaimana kehidupan tokoh tersebut semasa hidupnya. Ia berprofesi sebagai seorang Ulama yang mengajar dan juga sebagai seorang Navigator atau pelayar. Mengingat kawasan Krueng Raya adalah pesisiran lautan yang luas yang menghubungkan pulau-pulau. Namun dari naskah ini juga kita tau bahwa dia bukan pengarang, hanya sannya sebagai seoarang Katib (Penyalin) naskah.
Wallahu A’lam.
Batoh, 5 Rabiul awal 1438 H.

Post a Comment

0 Comments