Catatan Muhammad Zain Ibn Faqih Jalaluddin Al-Asyi tentang Pembakaran Karya 3 Tokoh Besar Aceh dalam Abad 17


Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.

Sejak semalam saya berusaha melacak manuskrip Aceh yang tersimpan diluar Aceh, dan saya menemukan sebuah kitab yang tidak asing ditelinga kita yaitu Bidayatu al-Hidayah Karya Syaikh Muhammad Zain anak Tuan Faqih Jalaluddin al-Asyi Tabarak wata'ala dalam koleksi Hayatun Nufus di Surau Tanjung Batang Kapeh, Padang, Sumatra Barat.
Subuh tadi saya berusaha menamatkan 1/2 lagi dari isi kitab ini setelah sebelumnya saya temukan kesaksian beliau tentang usaha kristenisasi yang dilakukan oleh kolonial Belanda di tanah Jawi sekitar tahun 1756 M. Saya menemukan bagian tentang pendapat beliau terhadap 3 tokoh besar Aceh abad 16-17 yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani dan Saiful RIjal. 

Beliau menulis :
"Bermula yang keluarkan daripada Ulama yang dahulu itu yaitu tiga orang Pertama, Hamzah Fansuri, Kedua Syamsuddin Syumatrani, ketiga Saiful Rijal. karena orang yang tiga itu sudah disalahkan oleh sekalian ulama di Negeri Aceh. Dan kitab mereka itu sudah ditunun(bakar) melainkan yang disembunyi oleh setengah orang"
Saya tidak ingin menyinggung lebih jauh tentang pendapat Muhammad Zain terhadap kesalahan 3 tokoh besar ini dipoin yang tidak saya sertakan digambar tersebut, sebagaimana ia katakan bahwa mereka sudah disalahkan oleh sekalian ulama di Negeri Aceh semisal Nuruddin ar-Raniry kala itu. Akan tetapi yang menarik disini adalah kata
"Kitab mereka sudah ditunun melainkan yang disembunyi oleh setengah orang".
Ini menarik, karena sejauh kepustakaan yang saya temui, hanya Syaikh Nuruddin ar-Raniry yang menyebutkan pembakaran kitab-kitab karya Syaikh Hamzah dan Syamsuddin Sumatrani dalam kitab Fathul Mubin dan Jawahir Ulum.
Dan dengan demikian manuskrip yang belakangan ditemukan oleh para ahli filologi dan kolektor berupa kitab-kitab karya 3 tokoh besar tersebut merupakan salinan-salinan daripada kitab yang disembunyikan oleh sebagian orang saat pembakaran itu terjadi.
Bahkan, kitab-kitab tersebut masih dijumpai dengan jumlah yang terbilang banyak mulai dari salinan abad 18 sampai abad 20 dan tidak hanya di Aceh, akan tetapi juga saya temui semalam dalam koleksi Haji Amru Karim di Jambi, Riau dan Padang.
Saya berharap Informasi amat singkat ini kiranya dapat membantu Kanda saya Ust. Hamzah Abdul Wahab, Lc dalam menyelesaikan studinya.
Amin
Bitai, 21 Syawwal 1438 H

Post a Comment

0 Comments